Sabtu, 20 Februari 2016

Tiga Sikap Mukmin Saat Hadapi Persoalan Hidup

Permasalahan hidup sering kali menjadi alasan seseorang untuk berputus asa. Bahkan banyak di antara mereka yang menganggap bahwa masalah adalah bencana. Tidak jarang hal ini menyebabkan manusia jauh dari Allah SWT.

Upaya penyelesaian masalah terkadang justru menjerumuskan manusia dalam kesengsaraan hidup. Beberapa diantaranya menempuh jalan pintas dan tidak diridhai Allah SWT. Misalnya dengan bunuh diri, atau mencelakai dan menyusahkan orang lain.

Islam selalu memperingatkan penganutnya agar bersabar dalam menghadapi persoalan hidup. Agama yang di bawa Rasulullah SAW ini mengajarkan umatnya agar terhindar dari kebimbangan, kebingungan dan kegelisahan. Lantas apa sikap yang seharusnya dimiliki mukmin ketika hadapi perosalan hidup? Berikut informasi selengkapnya.

1. Menyadari Bahwa Setiap Jiwa Ada Rizkinya
Sikap pertama yang harus dimiliki oleh kaum muslim ketika melihat persoalan hidup adalah menyadari bahwa setiap jiwa itu ada rizkinya. Mungkin kita sudah banyak mendengar apabila pada zaman jahiliyah dahulu banyak orangtua yang membunuh anaknya karena merasa tidak mampu memberikan nafkah kepada mereka.

Hal yang sama juga kerap terjadi pada zaman sekarang. Padahal Islam telah melarang perbuatan keji yang demikian. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud menemui Rasulullah, lalu bertanya. “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar? Beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu.”

“Kemudian apa lagi?” “Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu”. “Lalu apa lagi?” “Engkau berzina dengan istri tetanggamu” (HR. Bukhari Muslim).

Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.” (QS: al-An’am [6]: 151).

Dalam ayat yang lain Allah juga tegaskan;

”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS: al-Israa’ [17]: 31).

Ayat di atas menujukkan bahwa Allah SWT sangat menyayangi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu Allah melarang umat manusia untuk membunuh anak-anak mereka.

Jadi intinya sebagai kaum muslim kita tidak boleh takut miskin, sesulit apapun beban ekonomi yang sedang dihadapi. Seharusnya kita mampu menyikapinya dengan tepat sehingga dapat meningkatkan iman dan takwa kita sebagai kaum muslim. Selain itu, kita juga harus selalu bersabar dan ikhtiar di jalan Allah SWT.

2. Mampu Memaknai Rizki
Selain memiliki sikap untuk menyadari bahwa setiap jiwa ada rezekinya, sebagai kaum muslim kita juga harus mempu memaknai rezeki itu sendiri. Jangan hanya beranggapan bahwa rezeki itu sebatas harta benda saja seperti pandnagan orang-orang kafir.

Akan tetapi, sadarilah bahwa rezeki itu mencakup semua hal yang ada di dalam kehidupan manusia. Dapat berupa waktu, kesehatan, kesempatan, kecerdasan, istri, anak, orang tua, tetangga, teman, lingkungan, hujan, tanaman, hewan peliharaan dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan manusia bahwasanya nikmat (rezeki) yang telah Allah limpahkan ini sungguh tidak akan pernah bisa dihitung. Sebab, Allah telah menyediakan untuk umat manusia apa saja yang manusia perlukan pada segala situasi dan kondisi.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS: Ibrahim [14]: 34).

Allah memang memberikan rizki kepada semua makhluk-Nya, tetapi tidak semua mendapatkan rizki yang mulia dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia” (QS. 22 : 50).

Terhadap ayat tersebut, Ibn Katsir mengutip pernyataan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. “Apabila engkau mendengar firman Allah Ta’ala (wa rizqun karim) ‘Dan rizki yang mulia,’ maka rizki yang mulia itu adalah surga.

Berdasarkan firman di atas, maka sebaik-baiknya rezeki adalah surga. Oleh karena itu, meskipun sedang menghadapi persolan hidup, kita tetap harus mengutamakan dua perkara penting yakni iman dan amal sholeh. Kedua hal inilah yang dapat mengantarkan setiap jiwa mendapatkan rezeki yang mulia.

3. Tawakkal
Hal terakhir yang harus dilakukan muslim dalam menyikapi persolan hidup adalah dengan tawakal kepada Allah. Kita semestinya menerima segala ketetapan Allah dengan lappang dada. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki” (QS. An-Nahl [16]: 71).

Terkait hal ini Imam Ghazali dalam kitab terakhirnya ‘Minhajul Abidin’ menegaskan bahwa setiap Muslim hendaknya memahami dengan baik bahwa rizki manusia itu telah dibagikan oleh Allah sebelum kita dilahirkan.

Apa yang dibagikan-Nya itu tidak dapat diganti dan tidak pula berubah. Apabila seorang Muslim menolak pembagian tersebut dan berharap agar diubah, maka berarti ia telah mendekati kekufuran.

Lebih lanjut, Imam Ghazali mengatakan, “Sesungguhnya apa yang ditakdirkan sebagai makanan yang engkau kunyah, maka tidak akan dikunyah oleh orang lain. Maka, makanlah bagian rizkimu itu dengan mulia, jangan engkau memakannya dengan hina”.

Karena Allah telah menetapkan rezeki kepada setiap makhluk-Nya. Maka tugas kita selanjutnya sebagai hamba adalah terus berikhtiar untuk menjemput rezeki tersebut. Terkait dengan sedikit atau banyaknya yang diperoleh maka berlapang dada dan bersyukurlah.

Sudah seharusnya kita menyerahkan semua kepada Allah dengan bertawakal setelah melakukan ikhtiar. Sebab tawakkal itu adalah indikasi keimanan paling nyata. “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. 5 : 23).

Demikianlah sikap yang harus dimiiki umat muslim ketika menghadapi persoalan hidup. Jangan jadikan masalah hidup sebagai penghambat kita untuk bertakwa kepada Allah. Sebab pada dasarnya di setiap masalah itu, Allah senantiasa memberikan jalan keluar kepada hamba-Nya yang mau berusaha.

Kalimat Terlarang Diucapan Ketika Berdoa

Berdoa merupakan aktivitas spiritual seorang hamba untuk meminta sesuatu kepada yang pencipta. Bagi umat Islam, berdoa biasa dilaksanakan usai pelaksanaan salat baik wajib maupun sunnah.

Sebelum berdoa, umat Islam terbiasa melantunkan pujia-pujian terhadap Allah melalui kalimat dzikir. Setelah itu, barulah memanjatkan apa yang menjadi keinginannya agar dikabulkan Allah. Ternyata berdoa tidak sebatas berdzikir lalu meminta.

Lebih dari  itu, ada adab yang mengaturnya. Ternyata ada kalimat terlarang yang tidak boleh diucapkan ketika sedang memohon kepada Allah ini. Rasulullah menjelaskan kalimat ini sering diucapkan namun sebenarnya tidak diperbolehkan. Apa kalimat terlarang tersebut? 

Ternyata kalimat ini sering diucapkan oleh sebagian umat Islam saat berdoa. Bahkan beberapa diantaranya menganggap baik menggunakan kalimat ini. Karena memang, sepintas seperti tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut.

Namun ternyata, Rasulullah SAW lebih mengetahui kehendak Allah dibanding kita. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menyampaikan bahwa kalimat ini tidak disukai-Nya dan umat dilarang mengucapkan ketika berdoa.

Adalah kalimat “Ya Allah jika Engkau berkenan maka berilah aku (isi permohonan)”, “Ya Allah (isi permohonan) jika Engkau berkenan”  yang menjadi kalimat terlarang ketika berdoa. Sepintas tidak ada yang salah bukan?

Bahkan beberapa diantara kita mungkin sering mengucapkannya usai salat. Kalimat ini terkesan lembut dan tidak memaksa Allah dalam berdoa ketika meminta. Namun ternyata tidak diperbolehkan diucapkan ketika berdoa. Hadist tentang penjelasan ini diriwayatkan   Bukhari yang artinya:

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia sungguh-sungguh dalam memohon dan janganlah ia mengucapkan, ‘Ya Allah jika Engkau berkenan maka berilah aku.’ Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya” (HR. Bukhari)

“Janganlah kalian mengucapkan ‘Ya Allah ampunilan aku jika Engkau berkenan. Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkenan’. Tapi hendaknya ia sungguh-sungguh dalam memohon karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya” (HR. Bukhari)

Seorang ahli tafsir, Ibnu Abdil Barr menjelaskan tentang hadist tersebut. Menurutnya tidak ada yang dapat memaksa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah hanya melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Allah hanya mengabulkan apa yang dikehendaki-Nya.

Kalimat  ini dianggap tidak berdasar sebab Allah hanya melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ibnu Abdil Barr bahkan mengatakan bahwa ucapan ini hukumnya haram ketika berdoa. Sedangkan Imam Nawawi berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Allah SWT maha mengetahui Ilmu pengetahun.

Jumat, 19 Februari 2016

Ternyata, Inilah Lima Hal yang Pasti Ditanyakan Saat di Akhirat


Kehidupan di dunia merupakan hal sementara, sedangkan kehidupan kekal akan di jalani saat di akhirat kelak. Kiamat menjadi suatu peristiwa yang pasti terjadi dan tidak bisa dielakkan oleh siapapun. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat tersebut kecuali Allah SWT.

Di akhirat kelak, umat manusia akan di timbang amalan kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan di dunia. Barang siapa yang berat timbangannya akan menjadi penghuni surga dan mereka yang menghabiskan kehidupannya dengan maksiat maka bersiaplah menahan panasnya api neraka.

Di hari kiamat kelak, dua kaki manusia tidak akan beranjak sedikit pun sebelum mendapatkan pertanyaan dan menyampaikan jawabannya. Lalu apa sajakah hal-hal yang akan ditanyakan saat di akhirat kelak? Berikut informasi selengkapnya.

1. Umur
Umur menjadi hal yang sudah pasti akan ditanyakan saat di akhirat nanti. Tentu saja pertanyaan tersebut berkaitan dnegan untuk apa saja umur tersebut kita pergunakan? Apakah untuk melakukan kesibukan duniawi saja atau mengimbanginya dengan kesibukan akhirat?

Banyak di antara kita yang lalai dengan perkara umur ini. Bahkan tidak jarang kita jumpai orang-orang yang bukan melaksanakan perintah Allah, namun justru menghabiskan separuh kehidupannya untuk berbuat maksiat dan dosa. Orang-orang yang demikian inilah yang kelak akan terjerumus ke dalam pedihnya siksa neraka karena menjadi dunia sebagai orientasi hidupnya.

Sebaliknya, mereka yang mempergunakan umurnya untuk menyibukkan diri dengan dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an, membayar zakat, membantu sesama dan amalan kebaikan lainnya akan diberi keindahan surga. Oleh karenanya, janganlah menghabiskan waktu untuk berfoya-foya dan terlena dengan kenikmatan duniawi yang hanya sementara.

2. Ilmu
Perkara selanjutnya yang juga akan ditanyakan saat kiamat nanti adalah mengenai ilmu. Bagaimanakah cara kita memperoleh dan mempergunakan ilmu menjadi suatu hal yang sangat penting. Apakah kita menggunakan setiap lembar ilmu yang diperoleh untuk kebaikan atau justru menggunakannya untuk berbuat maksiat.

3. Masa Muda
Masa muda menjadi waktu yang sebenarnya harus dipergunakan untuk mendulang pahala yang sebanyak-banyaknya dari Allah SWT. Namun, pada kenyataannya saat ini banyak orang yang menghabiskan masa mudanya dengan sibuk belanja, mengikuti mode, bercampur baur dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

Semua kegiatan tersebut ternyata menjadi ladang untuk mengumpulkan dosa. Maka beruntunglah bagi mereka yang menggunakan masa mudanya untuk menuntut ilmu akhirat dengan tidak melupakan ilmu dunia. Rajin mendatangi majelis taklim dan bertemu dengan orang-orang shaleh, menjaga diri dari perbuatan zina serta tidak suka melakukan perbuatan sia-sia lainnya.

4. Harta (Cara Mendapatkannya)
Pertanyaan yang tidak kalah penting akan ditanyakan saat kiamat kelak adalah perkara harta. Ada dua pertanyaan terkait harta ini, yang pertama mengenai bagaimana cara kita memperolehnya. Apakah kita mendapatkan harta dengan cara menipu, mencuri, melakukan korupsi atau perbuatan dosa lainnya. Ataukah kita mendapatkan harta tersebut dengan cara yang baik, berkah dan halal. Tentu saja cara kedua inilah yang mampu bermanfaat di dunia dan akhirat.

5. Harta (Cara Memanfaatkannya)
Pertanyaan selanjutnya mengenai perkara harta adalah cara memanfaatkannya. Apabila kita mendapatkan harta dengan cara yang buruk, maka kemungkinan besar harta itu juga akan digunakan untuk keburukan. Misalnya mendapatkan harta dari hasil korupsi, bisa jadi digunakan untuk zina, hura-hura dan sejenisnya.

Namun tidak semua orang yang mendapatkan harta dengan cara buruk mempergunakanya untuk keburukan juga. Harta tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, seperti bersedekah dengan hasil uang curian. Namun perlu diketahui bahwa Allah tidak akan menerima kebaikan kecuali dengan cara dan sumber yang baik pula.

Ada pula orang yang mendapatkan harta dengan cara yang baik namun menggunakannya untuk keburukan. Misalnya ia mencari harta dengan menjadi seorang kuli bangunan, akan tetapi mempergunakan harta tersebut untuk berjudi, ikut pesta minuman keras dan maksiat lainnya.

Cara memanfaatkan harta yang terakhir adalah mendapatkan dengan baik dan mempergunakannya di jalan kebaikan. Orang yang demikian ini adalah orang yang beruntung sebab mereka menjemput rezeki dengan cara yang baik dan memanfaatkanya di jalan Allah.

Demikianlah informasi mengenai lima hal yang sudah pasti ditanyakan saat hari kiamat kelak. Sebagai kaum muslim kita harus mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan melaksanakan dengan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar mendapatkan indahnya surga seperti yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman.

Inilah Amalan yang Membuat Pelakunya Datang Bagai Bulan Purnama Saat Kiamat

Ada banyak sekali amalan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dikerjakan kaum muslim saat hidup di dunia, di antaranya ada amalan wajib dan juga amalan sunnah. Bagi mereka yang mengerjakan amal kebaikan maka orang tersebut akan di balas dengan pahala dari Allah SWT.

Tidak hanya itu, di akhirat kelak saat hari penimbangan amal maka orang yang berat timbangan kebaikannya akan menjadi penghuni surga. Sebaliknya, mereka yang selama hidupnya melakukan maksiat dan berbuat dosa akan terjerumus ke dalam neraka.

Ternyata, pada hari kiamat kelak akan datang manusia bagaikan bulan purnama karena suatu amalan. Lalu amalan apakah yang membuat pelakunya datang bagai bulan purnama saat hari kiamat kelak? Berikut informasi selengkapnya.

Amalan yang membuat pelakunya datang bagai bulan purnama saat kiamat kelak adalah mereka yang senantiasa mengerjakan amalan kebaikan. Orang yang rajin shalat akan memiliki pancaran cahaya yang menjadi penerang bagi fisik, pikiran dan jiwa pelakunya.

“Jika seorang hamba memelihara shalatnya,” dengan, “menegakkan wudhunya, rukuknya, sujudnya, serta bacaannya,” terang Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani, “Maka shalat akan berkata padanya, ‘Allah memeliharamu seperti engkau memeliharaku.'”

Kemudian, lanjut Nabi dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit ini, “Lalu diangkat ke langit dan baginya cahaya sampai tiba di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla sehingga (shalat itu) memberi syafaat bagi orangnya.”

Tidak ada satupun kerugian yang akan diperoleh orang yang khusyuk dalam shalatnya. Bahkan mereka akan mendapatkan pahala yang agung dan kemuliaan di akhirat yang abadi. Kaum muslimin yang benar imannya, kemudian mendirikan shalat dengan berjamaah karena Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah, kelak mereka akan diberikan karunia melewati shirath seperti kilat yang menyambar dan dimasukkan ke dalam golongan Sabiqin (orang yang terdahulu dalam iman).

Selain itu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Thabrani, “Pada Hari Kiamat dia datang bagai bulan purnama.”

Ditambahkan dalam riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, “Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya sempurna pada Hari Kiamat.”

Tidak hanya itu, wajah orang yang melakukan shalat juga akan senantiasa memancarkan cahaya kesejukan, enak dipandang, nyaman dibersamai dan tidak bosan saat menatapnya. Tidak hanya itu, kaum muslimin yang beriman dan khusyuk dalam shalatnya, pikirannya adalah pelita bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Itulah sebabnya, produk pikiran berupa tulisan maupun lisan akan senantiasa mencerahkan dan memiliki daya ubah bagi orang lain yang menjumpainya.

Sedangkan pancaran cahaya nuraninya akan menembus melewatu batas-batas indrawi dalam kecintaannya kepada Allah Ta’ala. Karenanya akan membuat semesta alam bertasbih seraya mendoakan keberkahan untuknya.

Demikianlah informasi mengenai amalan yang membuat pelakunya datang bagai bulan purnama saat hari kiamat kelak. Pribadi-pribadi seperti inilah yang akan dinantikan kehadirannya di surga kelak. Pada hari kiama kelak, shalat akan bersaksi untuknya dengan kesaksian yang tiada dusta di dalamnya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang demikian mulia ini.

Batas Suami Tak Beri ‘Jatah’ Biologis Pada Istri

Urusan biologis dalam berumah tangga menjadi salah satu aspek penunjang kebahagiaan. Tidak hanya istri yang harus melayani suami secara lahir batin, tapi sang pemimpin rumah tangga ini juga memiliki kewajiban serupa.

Namun dalam satu kondisi, suami dan istri bisa saja terpisah jauh dalam jangka waktu yang lama. Sehingga dalam rentang waktu tersebut kebutuhan biologis istri tidak terpenuhi.

Tidak hanya jarak, terkadang ada hal-hal lain yang menyebabkan suami tidak memberi nafkah ini kepada istrinya. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap hal ini? Kapan batas minimal suami tidak memberikan nafkah biologis kepada istrinya?

Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal berumah tangga.  Hal ini mungkin terdengar klasik, namun agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW  ini juga sudah mengaturnya untuk menjaga keutuhan rumah tangga umatnya. Menurut Ibnu Hazm berkata, suami wajib menjimak istrinya sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan jika ia mampu.

Untuk urusan ini, Allah SWT memang sudah memerintahkan hamba-hamba-Nya yakni pria yang sudah menikah untuk memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Hal ini dijelaskan dalam banyak ayat, dua ayat berikut menjelaskan hal tersebut.

“..apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu…” (QS. Al Baqarah: 222).

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya” (QS. Al Baqarah: 223).

Namun fakta dalam kehidupannya tidak selamanya urusan nafkah biologis ini berjalan lancar. Pasalnya ada hal-hal yang membuat pasangan suami menahan hasrat biologisnya.

Berbeda dengan Ibnu Hazm, Imam Ahmad mengatakan bahwa batas minimal suami tidak memberikan hak biologis istrinya dalah empat bulan. Pendapat ini berpijak pada ketetapan yang dibuat oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.

Kala itu, Islam tengah dalam masa jaya karena berhasil menang dalam setiap peperangan. Para bala tentara dengan gagah berani menerjang lawan membawa bendera Islam untuk melawan musuh. Namun dibalik kemenangan yang diterima, ada hati istri yang sedih karena ditinggal suaminya bertugas untuk berperang.

Hal ini yang diketahui oleh Umar bin Khattab saat melakukan blusukan ke kampung-kampung. Saat menjumpai sebuah rumah, khalifah kedua ini mendengaran syair seorang wanita yang begitu sedih. Ia begitu merindukan suaminya yang sudah bertugas selama berbulan-bulan.

“Alangkah ringannya  bagi  umar bin Khattab dan bagaimana gelisahnya seorang istri yang telah lama ditinggalkan oleh  suaminya”

Begitulah potongan syair yang diucapkan wanita tersebut. Hal ini tentu saja membuat Umar bin Khattab gundah. Ia lantas bergegas menemui putrinya Hafsoh untuk meminta pertimbangan tentang berapa bulan seorang wanita mampu bertahan tanpa suaminya, apa kata Hafsoh :”sekuat-kuat wanita dia hanya bisa bertahan selama empat bulan"

Sejak itu Umar menyuruh pasukan yang sudah dimedan perang selama empat bulan untuk pulang dan digantikan dengan pasukan yang lain.

Sementara itu, menurut Imam Al Ghazali, suami seharusnya menjimak istri setiap empat malam satu kali. Hal ini berdasarkan batas poligami dalam Islam yang berjumlah empat orang. Namun boleh diundurkan dari waktu tersebut bahkan sangat bijaksana kalau lebih dari sekali dalam empat malam atau kurang dari itu, sesuai kebutuhan istri dalam memenuhi kebutuhan seksualnya.  Meski terdapat perbedaan di kalangan ulama, namun setiap perbedaan itu ada faedah bagi umat.  

Kamis, 18 Februari 2016

Di Akhirat, Golongan Ini Digiring ke Surga dengan Rantai

Perjalanan menuju surga bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada banyak sekali fase yang harus dilewati manusia untuk meraih kenikmatan yang satu ini. Di akhirat kelak manusia akan melewati masa hisab, lalu setelah itu amal perbuatan yang dilakukan selama di dunia akan ditimbang atau disebut dengan Yaumul Mizan.

Selain itu, di akhirat kelak fase selanjutnya yang harus dilalui yaitu perjalanan manusia untuk melewati jembatan shirat yang di ujungnya terdapat surga bagi kaum beriman. Sedangkan di bawahnya terdapat neraka yang menjadi tempat penyiksaan bagi pelaku maksiat di dunia.

Ternyata tidak semua orang dapat masuk surga dengan cara yang mudah. Bahkan Rasulullah SAW pernah menyebutkan dalam sabdanya bahwa ada kaum yang digiring ke surga dengan rantai. Apakah maksud dari hadist tersebut? Berikut informasi selengkapnya.

Hadist ini diri Bukhari, dimana Rasulullah  SAW besabda yang artinya:
“Allah heran dengan orang-orang yang masuk surga dengan dibelenggu rantai.” (HR Bukhari)

Dan pada riwayat lain,
“Sungguh Allah heran dengan orang-orang yang ditarik untuk masuk ke surga dengan menggunakan rantai.” (HR. Ahmad, dan Abu Dawud)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
“Makna hadist ini yaitu ketika orang kafir tertawan, kemudian mereka masuk Islam di sebabkan mereka mengetahui kebenarannya, dan mereka masuk Islam dengan sukarela maka mereka masuk surga. Kondisi terpaksa pada tawanan merupakan sebab awalnya, maka dimutlakkan dengan pemaksaan dengan belenggu rantai karena ialah sebab masuknya mereka dalam surga.

Tafsir lain dari Al-Thibi rahimahullahu mengatakan, makna dirantai ini adalah melepaskan diri dari kesesatan dan menuju kepada hidayah Allah. Namun hadist dalam tafsir surat Ali Imran menunjukan bahwa maknanya adalah hakikat (tekstual, benar-benar ada yang masuk surga dibelenggu, pent). Sebagaimana dari riwayat dari Abu Tufail, ia memarfu’kannya (sampai sanadnya kepada Nabi)

Sementara itu, Ibrahim Al-Harbi mengatakan bahwa tidak boleh memahami hadist ini secara hakikat atau tekstual. Menurutnya mereka digiring masuk Islam dalam keadaan terpaksa dan ini menjadi sebab mereka masuk ke dalam surga, bukanlah maksudnya di surga sana ada belenggu.

Islam merupakan agama yang tidak pernah memaksa manusia untuk memeluknya. Ibnu Katsir menuturkan, “Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, ‘Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.'” (Qs. al-Baqarah [2]: 256)

Ibrahim Al-Harbi berpendapat bahwa tidak boleh memahaminya dengan makna hakikat (tekstual) dan ia berkata bahwa maknanya adalah mereka digiring masuk Islam dalam keadaan terpaksa dan ini menjadi sebab mereka masuk ke dalam surga, bukanlah maksudnya di surga sana ada belenggu.

“Saya Melihat Manusia dari umatku digiring ke surga dalam dibelenggu rantai dengan terpaksa”

Kemudian aku berkata,
“wahai Rasulullah siapakah mereka?”

Beliau bersabda,
“sekelompok orang dari Ajam (non-Arab) yang ditawan oleh orang Muhajirin kemudian mereka masuk Islam dalam keadaan terpaksa”.

Bahkan di dalam Islam, jika ada seseorang yang menjadi mualaf karena terpaksa seperti menjadi tawanan mereka, maka sudah terjamin surga baginya.

“Rabbmu merasa kagum,” sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam riwayat Shahih, “kepada kaum yang digiring ke dalam surga dengan rantai.”

Maknanya, tutur Ibnu Katsir, “Mereka adalah tawanan yang dibawa ke negeri Islam dalam keadaan diikat dan dibelenggu.” Setelah itu, lanjut ulama’ masyhur ini, “Mereka pun masuk Islam.”

Demikianlah penjelasan terkait maksud hadist yang menyatakan bahwa akan ada orang yang masuk surga dengan digiring rantai. Ternyata kaum kafir yang terpaksa memeluk Islam karena menjadi tawanan perang atau sejenisnya juga akan menjadi penghuni surga sebab di dalam hati mereka telah bersemayam keimanan kepada Allah SWT.

Tujuh Cara Tingkatkan Kekuatan Iman


Keimanan seseorang bagaikan siklus yang bisa naik dan turun seiring waktu. Dalam satu kondisi, bisa saja keimanannya begitu tinggi, namun seketika bergoyah ketika ditimpa ujian dari Allah. Tidak hanya kesedihan, kebahagiaan pun menjadi ujian yang menggoyahkan iman.

Terlebih bagi manusia yang imannya masih lemah, maka dengan cepat berubah layaknya membalikkan telapak tangan. Imbasnya mereka jauh dari ajaran Islam bahkan rela berpaling dari Allah SWT. 

Sebagai kaum muslim, sudah seharusnya kita mencari tahu cara tepat untuk meningkatan kekuatan iman. Selain memperteguh diri sendiri, cara ini juga juga bisa mempengaruhi orang sekitar untuk melakukan hal serupa. Berikut ini adalah informasi terkait tujuh cara untuk meningkatkan kekuatan iman.

1. Memperbanyak Baca Al-Qur’an dan Merenungi Maknanya

Hal pertama yang harus dilakukan oleh kaum muslim untuk meningkatkan kekuatan imannya adalah dnegan memperbanyak membaca Al-Qur’an serta merenungi maknanya. Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an memiliki targer yang luas dan spesifik sesuau dengan kebutuhan masing-masing orang yang sedang mencari atau memuliakan Rabbnya.

Bahkan jika didalami, ayat Al-Qur’an tersebut dapat menggetarkan hati seseorang yang tengah mencari kemuliaan Allah SWT. Selain itu, Al-Qur’an juga bisa membuat menangis orang yang berdosa dan memberikan ketenangan hati kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS, Shaad 38:29)

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)

2. Mempelajari Asma’ul Husna
Selain membaca dan memaknai Al-Qur’an, ternyata mempelajari Asmaul Husna (Nama-Nama Allah Yang Indah) juga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kekuatan iman. Apabila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah.

Tidak hanya itu, bila orang tersebut memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).

Sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar. Dengan memahami Asmaul Husna tersebut maka akan berdampak baik pada peningkatan keimanan yang kita miliki.

3. Mempelajari Sirah Nabawiyah
Rasulullah SAW merupakan teladan kebaikan bagi seluruh manusia. Oleh karena itu, dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah SAW akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadap beliau. Dengan demikian akan berkembanglah keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau serta mematuhi pesan-pesannya selaku utusan Allah SWT.

Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya: “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah saw menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim)

Hadist di atas sangat disukai oleh para sahabat Rasulullah SAW. Dari hadist tersebut sangat jelaslah bahwa dengan mencintai Rasulullah akan menjadi salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidup (sirah) menjadi bagian terpenting untuk lebih memudahkan dalam memahami dan mencintai beliau.

4. Mempelajari Nilai-Nilai Agama Islam
Meskipun kita terlahir sebagai kaum muslim, namun hal tersebut semestinya tidak menghentikan kita untuk terus belajar. Agar keimanan dalam hati terus meningkat maka giatlah dalam mempelajarri nilai-nilai agama Islam. Dengan merenungkan syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkan, perintah serta larangannya, akan menimbulkan rasa kagum terhadap kesempurnaan ajaran agama Islam tersebut.

5. Mempelajari Kehidupan para Sahabat Rasulullah SAW, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
Selain mempelajari dan meneladani kehidupan Rasulullah, kita juga harus mempelajari kehidupan dari sahabat beliau. Mereka merupakan generasi terbaik dari Islam yang memiliki kadar keimanan diibaratkan sebesar gunung Uhud. Sedangkan manusia pada zaman sekarang ini diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu dari gunung Uhud tersebut.

Dikisahkan Umar r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika ia mengetahui bahwa makanan yang diberikan padanya kurang halal sumbernya. Sejarah lain menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi’in meng-khatamkan Qur’an dalam satu kali sholatnya.

Ada pula cerita tentang seorang sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya berturut-turut tidak pernah sholat wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid. Atau seorang sholeh yang menangis karena lupa mengucap doa ketika masuk masjid.

Lewat cerita-cerita teladan dari sahabat Rasulullah inilah yang bisa menggetarkan hati kaum muslimin yang sedang berusaha meningkatkan kadar keimanan dalam hatinya.

6. Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran Allah yang Ada Di Alam (Ma’rifatullah)
Merenungi tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ada di alam (ma’rifatullah) menjadi suatu hal yang sangat penting untuk meningkatkan keimanan seseorang selanjutnya. Dengan merenungi tanda kebesaran Allah tersebut maka akan menghindarkan diri untuk memiliki sikap sombong.

Sebab ia tentu akan menyadari bahwa hanya Allah lah yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menciptakan alam yang sempurna ini. Selain renungan tentang penciptaan alam, renungkan jugalah rahasia dan mukjizat dari Al-Qur’an. meskipun diturunkan secara bertahap, akan tetapi Al-Qur’an memiliki mukjizat yang sangat luar biasa.

Kata tunggal yaum disebut sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah (masehi). Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut sebanyak 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa’ah (jam) disebutkan sebanyak 24 kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan semua kata-kata itu tersebar di 114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu kata yang tersusun indah.

Dengan menyakini segala kebesaran Allah tersebut maka akan membuat diri kita merasa kecil di hadapan-Nya. Selain itu, juga akan menambah kekaguman dan cinta serta keimanan kita terhadap pencipta alam semesta ini.

7. Berusaha Keras Melakukan Amal Perbuatan yang Baik Secara Ikhlas
Cara terakhir untuk meningkatkan keimanan adalah dengan berusaha keras dalam melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas. Amalan kebaikan tersebut dapat dimulai dari hati, kemudian diungkapkan dengan lidah dan dipraktekkan lewat anggota tubuh.

Perbanyaklah melakukan amalan hati dan selalu jaga kesucian hati yang kita miliki, sebab di sinilah bermuara sikap dan sifat baik serta buruk seseorang. Amalan lisan juga tidak kalah pentingnya, perbanyaklah dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Imbangi juga dengan melaksanakan amalan anggota tubuh yakni dengan perbanyak sedekah, dan shalat berjamaah di masjid.

Demikianlah informasi terkait tujuh cara tingkatkan kekuatan iman. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim kita harus senantiasa bertanya kepada diri sendiri mengenai tingkat keimanan yang dimiliki. Apabila sudah merasa mulai berkurang, maka bersegeralah untuk memohon ampun kepada Allah dan lakukan ketujuh cara di atas. Agar Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

Ketahui Empat Rakaat Sunnah untuk Buka Pintu Langit

Rasulullah SAW merupakan sosok teladan yang paling sempurna di muka bumi. Beliau senantiasa melaksanakan segala perintah Allah baik yang wajib ataupun sunnah. Ada banyak amalan sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah.

Bahkan apabila beliau terlewat melakukan amalan itu karena banyak sebab, maka Rasulullah akan menggantinya dalam kesempatan lain. Hal tersebut harus diikuti kaum muslim karena di balik ibadah sunnah Allah sudah menjanjikan kebaikan bagi yang mengerjakannya.

Bahkan ternyata ada salah satu amalan sunnah yang bisa membuka pintu langit, yakni empat rakaat shalat sunnah. Rasulullah tidak pernah melewatkan untuk mengerjakan amalan ini terkecuali ada halangan. Lalu empat rakaat shalat sunnah apakah yang bisa membuka pintu langit? Berikut informasinya.

Empat rakaat sunnah yang ternyata bisa menjadi pembuka pintu langit adalah shalat empat rakaat sebelum Dzuhur. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq meriwayatkan, “Ketika Rasulullah Saw belum shalat empat raka’at sebelum Zhuhur,” lanjutnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Baihaqi, “beliau melakukan setelahnya.”

Mengomentari hadits di atas, Abu Isa at-Tirmidzi menerangkan, “Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk menjaga amalan-amalan sunnah sebelum shalat wajib.”

Berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Empat rakaat sebelum zhuhur tanpa salam diantara rakaat-rakaatnya maka terbukalah pintu-pintu langit.” (Shahih al Jami, 885)

Sedangkan dari jalur lain dari Abu Ayyub al-Anshari, Imam Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan, “Empat rakaat sebelum Zhuhur dapat membuka pintu langit.”

Terbukanya pintu langit pada saat sebelum dzuhur juga menjadi waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Hal itu berdasarkan sabda Rosullullah SAW yang artinya: “Sesungguhnya buka-buka pintu langit dibuka hingga tergelincir matahari dan tidaklah tertutup sebelum solat zuhur, maka aku ingin saat itu yang naik bagiKu adalah suatu kebaikan” (HR. At-Tahrib 584, sahih)

Karena keutamaannya tersebut, maka shalat empat rakaat sebelum dzuhur ini menurut Dr. Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim dalam bukunya “Mizan, Jurus Jitu Memperberat Timbangan Amal”, beliay memasukan amalan tersebut ke dalam jajaran amal yang setara dengan shalat sunnah tahajud (Qiyamullail) selain shalat Isya’ dan Subuh berjama’ah awal waktu di masjid, mendirikan shalat Tarawih sampai tuntas di belakang imam, membaca seratus ayat al-Qur’an di malam hari, membaca dua ayat terakhir surah al-Baqarah di malam hari, memiliki akhlak yang mulia, menyantuni janda dan orang miskin, menjaga sunnah di hari Jum’at, Ribath di jalan Allah Ta’ala, niat shalat malam sebelum tidur dan mengajari orang lain tentang amalan-amalan tersebut.

Demikianlah informasi mengenai empat rakaat yang bisa membuka pintu langit. Allah SWT sangat memudahkan kaum muslimin untuk melaksanakan kebaikan. Dengan melaksanakan amalan sunnah ini akan membuat seorang hamba semakin di cintai oleh Allah Ta’ala.

Rabu, 17 Februari 2016

Lima Sunnah Rasulullah Saat Berpakaian


Pakaian menjadi suatu cerminan diri seseorang dalam kehidupan. Apa yang dikenakan dianggap merupakan ekspresi jiwa. Dalam Islam, pakaian memiliki kedudukan tinggi karena dapat menutup aurat dan menjaganya.

Bahkan, mendapat pahala jika mengikuti sunah-sunah berpakaian yang diajarkan Rasulullah SAW berikut ini. Aktivitas sehari-hari selalu bernilai ibadah jika dikerjakan dengan mengikuti aturan-Nya. Dan inilah yang dicontohkan Rasul agar kita mendapat keberkahan atas rutinitas yang dilakukan.

Termasuk untuk urusan berpakaian. Lima sunnah yang kerap dilakukan Rasulullah SAW ini hendaknya kita amalkan. Pastinya sebuah kebaikan jika Nabi terakhir ini selalu melakukan hal itu. Apa sajakah sunnah tersebut? Berikut informasinya.

1. Berpakaian yang Memiliki Warna Putih
Sunnah pertama Rasulullah SAW dalam berpakaian yang pertama adalah berpakaian yang memiliki warna putih. Pakaian berwarna putih dianggap lebih baik dibandingkan mengenakan pakaian lainnya. Akan tetapi Rasulullah SAW juga tidak pernah melarang umatnya untuk mengenakan pakaian berwarna lain.

Rasulullah SAW bersabda, “Pakailah pakaian putih, karena itu yang pakaian terbaik, dan kafanilah orang yang meninggal di antara kalin dengan kain tersebut,” (Shahih al-Jami’).

2. Berpakaian Gamis (Baju Kurung)
Tidak hanya mengenakan pakaian berwarna putih, Rasulullah SAW juga men-sunnahkan umatnya untuk berpakaian gamis. Yakni pakaian yang langsung yang menutupi seluruh tubuh hingga mata kaki.

Hal ini sesuai dengan hadis ini, “Baju yang disenangi Rasulullah SAW adalah gamis,” (Shahih al-Jami’).

3. Mendahulukan yang Kanan dalam Setiap Keadaan
Selain dari segi pakaian, ada juga sikap Rasulullah dalam berpakaian yakni mendahulukan yang kanan dalam setiap keadaan. ‘Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW selalu mendahulukan yang kanan dalam setiap pekerjaannya, seperti dalam bersuci, berjalan, dan memakai sandal,” (HR Muttafaq ‘Alaih).

4. Membaca Doa Setiap Memakai Baju Baru
Baju termasuk salah satu bentuk rezeki yang dilimpahkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, apabila kita membeli baju baru, lalu mengenakannya maka bacalah doa agar baju tersebut menjadi lebih berkah.
Ini dia doanya, “Ya Allah, bagiMu segala puji, Engkau telah memberikan pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang tercipta baginya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang tercipta baginya ,” (Shahih al-Jami’).

5. Mendoakan Orang yang Mengenakan Pakaian Baru

Rasulullah SAW tidak hanya menganjurkan umatnya untuk membaca doa saat mengenakan baru. Akan tetapi, Rasulullah juga menganjurkan umatnya untuk mendoakan orang yang mengenakan pakaian baru.

Ummu Khalid RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah menerima hadiah baju dengan gambar-gambar warna hitam, beliau berkata, “Siapa di antara kalin yang ingin mengenakan baju ini?” orang-orang diam, dan Rasul berkata, “ Panggil Ummu Khalid ke sini!” Maka aku dibawa kepada Nabi dan aku dipakaikan pakaian itu kepadaku dengan tangan beliau sendiri. Beliau berkata, “Semoga kamu panjang umur sampai baju ini rusak dan usang.” Nabi mangatakan hal itu dua kali. (HR. Al-Bukhari).

Demikianlah informasi mengenai lima sunnah Rasulullah SAW saat berpakaian. Sebagai kaum muslimin, kita harus senantiasa mengikuti anjuran yang diberikan oleh Rasullah. Selain akan memperoleh pahala, anjuran tersebut tentu juga akan berdampak baik bagi kehidupan kita di dunia.

Ternyata, Inilah Bahan Bakar Neraka

Neraka menjadi tempat pembalasan atas keburukan yang dilakukan semasa hidup. Tiada lagi ampunan di sini, penghuninya hanya berteman panasnya api yang begitu dasyat dan sangat menyakitkan.

Bahkan Rasulullah SAW mengatakan, panasnya api di dunia ini, hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat kelak. Jika sebagian kecil saja jatuh ke bumi, maka akan sanggup mendidihkan lautan.

Jika demikian panasnya, diantara kita mungkin akan bertanya, apa bakan bakar yang Allah gunakan untuk menyalakannya? Ternyata ini bukan rahasia, Allah SWT sudah mengabarkannya melalui Alquran. Penasaran, berikut ringkasannya.

Neraka merupakan tempat pembalasan di akhirat kelak yang berisikan manusia-manusia pembangkang dan sombong yang dalam hatinya enggan menerima kebenaran, dan otaknya dipenuhi makar untuk menolak kebaikan, meski kebaikan itu nyata, bahkan lebih besar dari gajah yang paling besar sekalipun. Ternyata manusia pembangkang inilah yang kelak akan menjadi bahan bakar neraka bersama dengan batu-batu.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim : 6)

Dan Allah SWT lebih perjelas lagi, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.” (Q.S. Ali ‘Imran: 10)

Tidak ada satupun orang yang bisa menghindari siksaan ini apabila selama di dunia mereka hanya mengerjakan maksiat dan dosa. Bahkan Allah SWT juga menimpakan siksaan kepada kaum Nabi Luth, umat Nabi Shaleh, pembangkang di zaman Nabi Hud. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Allah tidak memilih-milih siapa yang akan mendapatkan siksaan saat di akhirat kelak.

Di tempat terburuk yang dipenuhi dengan siksaan dan nestpa ini, para penghuninya akan diberi minuman dari nanah yang mendidih, darah yang dimasak, dan makanan dari pohon zaqqum yang saat dimakan dapat merusak pencernaan dan tubuh seseorang.

Itulah balasan bagi orang-orang yang hatinya sudah membatu, kafir, musyrik dan munafik. Hati mereka tidak kuasa untuk menerima kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Hati yang disebut oleh al-Qur’an, “Sama saja; diingatkan atau tidak; mereka akan tetap ingkar terhadap perintah Allah Ta’ala dan sunnah Rasulullah SAW.

Demikianlah informasi mengenai bahan bakar neraka. Oleh karena itu, kita harus menjaga diri dan keluarga dari sikap-sikap yang bisa menjadikan diri pembangkang yang akhirnya akan dijadikan Allah sebagai penghuni neraka bahkan bahan bakar neraka yang menyiksa dirinya sendiri. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari sikap dan sifat demikian.

Ucapkan Doa Ini Agar Pahala Sedekah Menjadi Kekal

Sedekah menjadi ibadah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ada banyak sekali keunggulan di balik amalan yang satu ini. Bahkan sedekah diperintahkan untuk dilakukan secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, asalkan ikhlas demi mengharap ridha Allah SWT.

Bersedekah secara sembunyi-sembunyi akan menjauhkan diri dari sifat riya’. Namun jika dilakukan  secara terang-terangan juga tidak masalah karena bisa memotivasi orang lain dan niatnya semata-mata karena Allah Ta’ala.

Meskipun terlihat amalan yang mudah, ternyata Rasulullah SAW telah menganjurkan beberapa adab di saat hendak bersedekah. Tidak hanya Rasulullah, Aisyah binti Abu Bakar juga memberikan teladan untuk mengucapkan doa supaya pahala sedekah menjadi kekal. Doa apakah yang dimaksud? Berikut informasinya.

Bagi orang yang hendak bersedekah, ada sebuah doa yang dianjurkan untuk diucapkan. Aun bin Abdullah berkata, “Jika kamu memberi sedekah kepada orang miskin, kemudian dia berkata, ‘Semoga Allah Ta’ala memberkahimu’, maka ucapkanlah, ‘Semoga Allah Ta’ala memberkahimu.’” Lanjutnya menerangkan, “Agar sedekahmu bersih.”

Dikisahkan pada suatu  Abdurrahman bin Hubaib membawa makanan ke masjid. Di tengah jalan, ia bertemu dengan orang yang miskin. Maka, ia memberikan makanan tersebut kepada si miskin. Mereka yang menerima sedekah itu pun berkata, “Semoga Allah Ta’ala memberkahimu.” Kemudian, Abdurrahman pun membalas, “Semoga Allah Ta’ala memberkahi kalian.”

Ia pun melanjutkan dengan menyampaikan riwayat dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, “Aisyah berkata, ‘Jika kalian bersedekah, lalu didoakan, maka jawablah doa itu sehingga pahala sedekah kalian kekal.’”

Tidak hanya itu, ada banyak adab yang ternyata telah dianjurkan oleh Rasulullah. Misalnya saja mereka yang bersedekah dilarang untuk menyebut-nyebut sedekah di depan penerima sedekah. Melakukan hal yang demikian bisa menyakiti hati penerima sedekah karena bisa membuatnya malu.
   
Selain itu, sangat tidak dianjurkan bagi pemberi sedekah untuk mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang menerima sedekahnya. Namun, apabila si penerima sedekah mengucapkan terima kasih dan mendoakan itu menjadi suatu kelebihan dan salah satu sunnah dari Rasulullah. Beliau pernah berpesan bahwa barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, maka ia tidak berterima kasih kepada Allah Ta’ala.

Demikianlah informasi mengenai doa yang bisa membuat pahala sedekah menjadi kekal. Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang gemar bersedekah untuk jalan kebaikan dan Allah menerima sedekah tersebut dengan keridhaan. Dengan demikian, maka niscaya harta dan apapun yang disedekahkan akan diberkahi oleh Allah.

Senin, 15 Februari 2016

Teladani Kunci Sukses dan Bahagia Para Sahabat Nabi

Rasulullah SAW merupakan sosok teladan bagi umat manusia di seluruh dunia. Di dalam diri beliau terpancar kemuliaan dan kepribadian luar bisa mengagumkan. Tentu saja tidak salah apabila sosoknya dijuluki sebagai “Kekasih Allah”.

Meneladani sifat dan perbuatan beliau tentulah akan mendatangkan keberkahan. Namun, selain Rasulullah, ada pula sahabat-sahabat Nabi yang juga memberikan teladan kebaikan bagi umat zaman kini. 

Sahabat Rasulullah itu berasal dari kaum mukmin yang senantiasa menjadikan Beliau sebagai panutan. Ternyata ada lima kunci sukses dan bahagia dari para sahabat Nabi tersebut. Apa sajakah kuncinya? Berikut informasi selengkapnya agar bisa dijadikan sebagai teladan.

Sahabat-sahabat Nabi menjadi sosok yang harus diteladani setelah Rasulullah. Mereka merupakan kumpulan dari profil sebaik-baik manusia. Tidak ada orang yang lebih bagaia di dunia ini selain sahabat-sahabat Rasulullah. Sebab mereka belajar dan mengambil teladan langsung dari manusia paling mulia di muka bumi ini.

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari).

Sahabat Rasulullah berasal dari berbagai kalangan, ada yang berasal dari keluarga kaya namun tidak segan menggelontorkan hartanya di jalan Allah. Namun ada juga yang miskin tapi senantiasa berusaha di jalan Allah dengan penuh keikhlasan.

Dr. Aidh Al-Qarni dalam buku fenomenalnya “La Tahzan” menuliskan bahwa ada lima hal yang menyebabkan para sahabat disebut sebagai sebaik-baik manusia dan menjadi sosok yang sukses lagi bahagia dalam menjalani hidupnya.

1. Mereka Menerapkan Pola Hidup Sederhana dan Tidak Memaksakan Diri
Kunci sukses dan bahagia pertama dari para sahabat Rasulullah SAW adalah mereka senantiasa menerapkan pola hidup sederhana dan tidak memaksakan diri. Para sahabat Rasululla ini selalu menghadapi permasalahan hidup secara wajar. Selain itu mereka juga tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu terbebani dalam menghadapinya. Sebab, para sahabat Rasulullah ini menyadari bahwa Allah akan memberikan jalan untuk menyelesaikan semuanya selagi mereka mau berusaha. Allah Ta’ala berfirman:

 “Dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. 87: 8).

2. Memiliki Ilmu yang Luas, Penuh Berkah, dan Praktis
Kunci yang kedua yakni para sahabat tersebut memiliki ilmu yang luas, penuh berkah dan praktis. Mereka senantiasa belajar dan menuntut ilmu di jalan Allah SWT. Tentu saja ilmu yang diperoleh tersebut merupakan ilmu yang diberkahi oleh Allah SWT. Ilmu yang mereka miliki itu bukanlah retorika belaka, karena amat jelas dan tidak berbelit-belit. Allah SWT berfirman:

 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. 35: 28).

3. Amalan Hati Jauh Lebih Berat Daripada Ibadah Fisik
Amalan hati jauh lebih berat daripada ibadah fisik menjadi kunci selanjutnya untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan hidup dari para sahabat Nabi. Hati mereka dipenuhi dengan keikhlasan, inabah, tawakal, kecintaan yang mendalam kepada Allah serta raghbah (keinginan dekat dengan Allah yang memuncak.

Tidak hanya itu, hati mereka juga selalu diliputi oleh perasaan rahbah (rasa khawatir amal-amal yang dilakukan tidak berkenan di sisi Allah SWT) dan khasyyah (perasaan takut jika siksa Allah menipanya), dan masih banyak lagi yang lainnya.

4. Mereka Sengaja Mengurangi Kenikmatan Dunia
Selain senantiasa memperkuat keimanan dengan melaksanakan amalan kebaikan, para sahabat Nabi ini juga sengaja mengurangi kenimatan dunia. mereka menjaga jarak serta menjauhkan diri dari segala godaan dan kemewahan duniawi. Hal inilah yang membuat mereka selalu berada dalam ketenangan, thuma’ninah, dan sakinah. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’ [17]: 19).

5. Mereka Menempatkan Jihad Sebagai Amalan di Atas Amalan yang Lain
Kunci menjadi sebaik-baiknya manusia yang sukses dan bahagia para sahabat Nabi yang terakhir adalah mereka menempatkan jihad sebagai amalan di atas amalan yang lain. Bahkan mereka menjadikan jihad sebagai tanda, karakter, dan motto hidupnya.

Dengan jihad tersebut, para sahabat mampu menghilangkan segala kegundahan, keresahan dan kesedihan hatinya. Sebab di dalam jihad itu terdapat dzikir, amal, pengorbanan dan gerak tubuh. Oleh karenanya jihad menjadi jalan terbaik bagi seorang hamba untuk merasakan kebahagiaan sejati. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-ankabut [29]: 69).

Demikianlah informasi mengenai kunci sukses dan bahagia para sahabat Nabi dalam menjalani hidup. Oleh karenanya, maka pantaslah apabila mereka disebut Rasulullah sebagai sebaik-baiknya manusia. Sebagai kaum muslim kita harus melatih diri untuk meneladani pribadi-pribadi yang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya tersebut.

Gua di Yordania Diklaim Jadi Lokasi Persembunyian Ashabul Kahfi

Umat Islam pastinya sudah tidak asing dengan kisah Ashabul Kahfi yang diceritakan dalam Alquran. Sebanyak tujuh pemuda melarikan diri karena akan dibunuh oleh Raja Diqyanus. Mereka merupakan golongan beriman yang dipaksa meninggalkan akidahnya.

Beruntung ada sebuah gua yang menjadi tempat persembunyian. Mereka kemudian meminta pertolongan Allah agar terhindar dari pembunuhan itu. Keajaiban pun terjadi, para pemuda ini menyangka hanya tidur sehari.

Namun ternyata, waktu sudah berjalan selama 309 tahun. Keajaiban tersebut menyelamatkan mereka pembunuhan. Tidak diketahui pasti dimana letak gua ini, namun gua di Yordania berikut diklaim menjadi tempat persembunyian Ashabul Kahfi. Seperti apa?

Kisah ini diceritakan Allah SWT dalam Alquran yakni surah Al-Kahfi ayat 9-26. Begitu agungnya perjalanan akidah mereka sehingga Allah SWT mengabadikan dalam Alquran.  Teka-teki dimana letak gua ashabul kahfi, menarik para ilmuan untuk melakukan penelitian. Setidaknya ada 33 lokasi yang diklaim menjadi gua Ashabul Kahfi. Namun satu gua di Yordania ini adalah yang paling mendapat sorotan.

Gua ini ditemukan oleh arkeolog bernama Muhammmad Taisir Dhabiyyan di Abu Alanda, 8 km dari Amman, ibu kota Yordania. Di dalam gua yang ditemukan tahun 1963 ini terdapat inkripsi Yunani Kuno pahatan Kaum Tsamud, meski sudah memudar.  Situs bersejarah ini sendiri dikenal dengan nama ar-Raqim.

Bukti yang dibeberkan sebagai penguat bahwa situs tersebut adalah gua Ashabul Kahfi adalah dengan merujuk beberapa riwayat sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi seperti bin Shamit, Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhum pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab pernah masuk ke dalam gua tersebut.

Beberapa bukti arkeologis yang disebutkan Alquran juga tampak pada gua ini. Di dalam surat Al Kahfi ayat 21 disebutkan ciri-ciri tersebut yang artinya:,“… Dan mereka mengatakan, ‘dirikanlah bangunan di atas (gua) mereka. Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.’ Dan orang-orang yang berkuasa atas mereka mengatakan, ’Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.’” (al-Kahfi [18] : 21).

Ternyata setelah dilakukan upaya penggalian, para arkeolog menemukan adanya sebuah bangunan yang berdiri di atas gua. Pada awalnya berupa gereja, kemudian tempat ibadah itu berubah menjadi masjid saat Islam datang.

Ulama Muslim klasik juga sudah berkali-kali mendatangi lokasi tersebut dengan berpatokan terhadap gerakan matahari di atas gua. Seperti yang dijelaskan Allah dalam Surat Al Kahfi-17 yang artinya:

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah...” (Al Kahfi-17)

Penelitian mereka memang merujuk kepada gua yang berada di Yordan tersebut. Penelitian inilah yang kemudian menjadi rujukan para arkeolog saat ini.

Namun tidak ada yang pasti terkait lokasi yang benar gua tersebut. Pasalnya masih banyak tempat lain yang menjadi bahan kajian. Hanya Allah yang maha mengetahui. Semoga kisah Al Kahfi menjadi pembelajaran bagi kita. Aamiin.

Minggu, 14 Februari 2016

Mendapat Ampunan dengan Baca Doa Saat Berpakaian

Agama Islam mengatur semua persoalan dengan sangat baik. Tidak ada hal yang diremehkan, bahkan cara berpakaian saja mendapat perhatian dari agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini.

Pakaian menempati posisi penting dalam Islam. Dengan lembaran kain yang menutupi tubuh ini, aurat yang menjadi harta berharga kaum mukmin terjaga dengan baik. Inilah yang membuat pakaian menempati posisi yang mulia.

Ternyata, berpakaian saja menjadi ladang amal bagi Kaum Muslim. Bahkan bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu. Namun ini hanya bisa didapatkan jika kita mengamalkan doa ini saat berpakaian. Seperti apa doa yang dimaksud? Berikut ulasannya.

Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya. Jika doa ini dibacakan saat berpakaian, maka berhak bagi mereka  ampunan dosa yang telah lalu. Disebutkan dalam kitab al-Adzkar, Imam an-Nawawi mengutip satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnus Sunni. Dari Mu’adz bin Anas, Rasulullah SAW bersada yang artinya:

“Barang siapa yang mengenakan pakaian baru lalu membaca, (Alhamdulillahilladzi kasaanii haadzaa wa razaqaniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin-segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberi pakaian ini kepadaku dan memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan upaya dariku), (maka) Allah Ta’ala mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu as-Sani)

Namun pakaian yang dipakai tentunya harus sesuai dengan tuntunan Alquran. Dengan tetap menjaga dan menutup aurat yang sesuai dengan syariat. Inilah keuntungan menjadi Muslim, setiap kegiatan yang diawali dengan doa yang baik maka berbuah pahala dan dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

“Hai, anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagaian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS Al A’raf : 26).

Semoga kita senantiasa bisa mengamalkan doa ini sehari-hari. Karena dalam sehari, kita bisa berpakaian dua sampai tiga kali. Sehingga sangat disayangkan jika kita melewat kesempatan untuk menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Jumat, 12 Februari 2016

Ternyata, Siksa Neraka Paling Ringan Bisa Buat Lupa Ingatan

Neraka menjadi tempat yang paling ditakuti oleh umat manusia. Pasalnya, di sinilah orang-orang yang pernah melakukan dosa dan kemaksiatan menebus perbuatannya dengan hukuman yang sangat pedih.

Tidak ada satupun orang yang bisa menghindari pedihnya siksa neraka, kecuali mereka yang melakukan amal kebaikan dan senantiasa patuh serta taat kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Itulah sebabnya banyak orang yang kemudian mengubah dirinya agar menjadi lebih baik.

Namun, tidak semua orang melakukan hal tersebut. Masih banyak juga yang tetap melanjutkan kemaksiatan karena kesenangan duniawi. Padahal jika diketahui siksa neraka yang paling ringan saja bisa membuat seseorang lupa ingatan. Bagaimana itu bisa terjadi? Berikut informasinya.

Orang-orang yang meninggal dalam keadaan kafir dan hanya mengutamakan kesenangan duniawi sudah pasti akan menjadi penghuni neraka. Mereka akan disiksa dengan balasan sangat pedih dan tidak akan memperoleh pertolongan. Allah SWT berfirman.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, tidaklah akan diterima dari seorang pun di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun ia menebus diri dengan emas (sebanyak) itu. Bagi mereka siksa yang pedih dan mereka tidak memperoleh penolong.” (Qs. Ali imran[3]: 91)

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu pula untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (Qs. Al-Maidah[5]: 36)

Muslim meriwayatkan dari Anas ibn Malik bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Salah satu penduduk neraka yang hanya mengutamakann kesenangan hidup di dunia ini akan dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ia akan ditanya, ‘Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat sesuatu yang baik? Pernahkah kamu menikmati kesenangan?’ Ia berkata, ‘Tidak, demi Allah subhanahu wa ta’ala, ya Tuhan.’”

Dalam waktu sekejap saja, orang-orang kafir yang disiksa di neraka bahkan dengan siksaan paling ringan akan melupakan semua kesenangan dan kenikmatan yang pernah mereka rasakan selama di dunia. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas ibn Malik bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Pada hari kiamat nanti, Allah subhanahu wa ta’ala akan berfirman kepada salah seorang yang hukumannya di neraka paling ringan, “Jika kamu telah menikmati apa saja yang kamu inginkan di bumi, apakah kamu mau melepaskannya untuk menyelamatkan dirimu?” Ia menjawab, “Ya.” Allah subhanahu wa ta’ala berkata, “Apa yang Aku inginkan dari kamu tidaklah sebanyak itu: ketika kamu masih menjadi bagian dari anak keturunan Adam, Aku memerintahkan kamu untuk tidak mempersekutukan sesuatu dengan Aku, tetapi kamu tetap saja melakukannya.”

Azab nereka yang mengerikan dan sangat pedih itu pada akhirnya akan membuat orang tersebut kehilangan ingatannya sehingga ia bersedia melepaskan apa saja yang menjadi miliknya agar bisa terbebas dari siksaan tersebut. Akan tetapi hal tersebut adalah suatu yang  tidak akan pernah bisa dilakukannya. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Orang kafir menginginkan dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, serta istrinya, dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala.” (Qs. Al-Ma’arij[70]: 11-16)

Demikianlah informasi siksa neraka paling ringan bisa buat seseorang lupa ingatan. Hukuman yang mengerikan dan sangat pedih seharusnya membuat kita sadar agar meninggalkan segala kemaksiatan yang pernah dilakukan. Supaya kita tidak menjadi penghuni neraka yang abadi.

Selasa, 09 Februari 2016

Ternyata, Ini Alasan Harus Pergi Pagi untuk Cari Rezeki

Pagi merupakan waktu untuk mengawali hari. Beragam aktivitas dilakukan saat matahari mulai menampakkan sinarnya ini. Sebagian masih ada yang terlelap di balik selimut, namun banyak juga yang sudah meninggalkan rumah untuk cari rezeki.

Ternyata berangkat pagi-pagi untuk bekerja merupakan salah satu adab dalam mencari rezeki. Tidak hanya untuk menghindari kemacetan atau telat sampai ke kantor, lebih dari itu, ada rahasia pagi yang jarang kita ketahui.

Rasulullah SAW dalam hadistnya sering menyebut tentang pagi. Beliau juga mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki diawal hari tersebut. Lantas apa sebenarnya alasan kita harus mencari rezeki pagi-pagi? Berikut ini sabda Rasulullah dan bukti di balik anjuran itu.

Ternyata, pagi hari merupakan waktu yang sangat utama dan penuh berkah. Nabi Muhammad SAW sudah mendoakan secara khusus waktu ini agar menjadi waktu yang diberkahi. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Hibban; shahih lighairihi).

Doa tersebut menyiratkan kepada umatnya agar senang melakukan aktivitas di awal waktu. Hanya mereka dengan kesungguhan untuk berhasil dan mendapatkan keberkahan lah yang sanggup bagun lebih pagi untuk melaksanakan aktivitas.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, hadist ini tidak menunjukan bahwa waktu selain pagi tidak berkahi. Nabi mendoakan waktu pagi karena waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Pada saat itu kondisi tubuh masih dalam keadaan fit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.” (Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163, Maktabah Syamilah)

Nabi SAW juga selalu memberangkatkan bala tentaranya ketika akan berperang pada waktu pagi. Dan bisa dilihat bahwa umat Muslim pada zaman Rasulullah SAW selalu mendapatkan kemenangan, meski dengan jumlah lawan yang tidak sebanding. Hal ini juga dijelaskan dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy.

“Dan apabila beliau mengirim pasukan atau tentara perang, beliau memberangkatkan mereka pagi-pagi. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Hibban; shahih lighairihi).

Jika dilihat dari fakta ilmuah, memulai pagi dengan mencari rezeki memang memiliki banyak dampak positif. Dengan bangun pagi, tubuh menjadi lebih segar karena bisa menikmati udara yang masih bersih.

Saat bekerja lebih pagi maka kinerja otak seseoarang akan lebih optimal. Selain itu, menurut ahli saraf dari Rockefeller University, Ilia Karatsoreos PhD, pagi merupakan waktu yang baik untuk menjalin serta mempererat hubungan dengan orang lain. Rentang waktu antara jam 7-9 dianggap paling baik untuk meningkatkan income bagi para pebisnis, marketing atau pekerja yang harus menjalin interaksi dengan orang lain untuk memperbanyak pelanggan, customer, klien dan sebagainya.

Untuk itu, baiknya kita meneladani apa yang sudah dilakukan Rasulullah SAW. Karena sebaik-baiknya teladan, adalah Beliau yang merupakan manusia yang paling dicintai Allah, sang pemilik alam semesta.Semoga kita tidak termasuk umat yang menyia-nyiakan doa yang sudah dimunajatkan Rasulullah kepada Allah.

Wallahu a’lam bish shawab...

Senin, 08 Februari 2016

Inilah Orang yang Selalu Dikejar Rezeki


Setiap manusia pasti diberi rezeki dengan kadar yang berbeda-beda. Setiap hari orang-orang berjuang untuk mendapatkan rezekinya dengan bekerja. Ada yang sudah bekerja dengan begitu keras, tapi mendapatkan hasil yang pas-pasan.

Ada pula yang usahanya biasa saja, namun diberi rezeki yang begitu berlimpah. Semua adalah ketetapan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Tapi tahukah anda ternyata ada golongan yang selalu dikejar rezeki?

Amalan yang dilakukan membuat Allah SWT menjamin rezeki untuk mereke. Tidak hanya itu, rezeki yang diberikan juga mendapat keberkahan sehingga membawa kebaikan di sisi-Nya. Siapa kah golongan itu? Berikut ulasannya.

Keterangan tentang golongan yang mendapat jaminan rezeki dari Allah sudah dipaparkan dalam Alquran dan hadist. Mereka tidak dijamin rezeki berupa materi saja. Namun juga rezeki lain seperti kebahagiaan keluarga, kesehatan, rezeki iman dan lainnya.

Adalah golongan orang-orang yang bertakwa, yang mendapat jaminan rezeki dari Allah SWT hingga berlimpah. Bahkan rezeki tersebut datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam surat Ath-Thalaq 2-3 yang artinya.

”Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangaka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan kecukupan baginya …” (QS. Ath Thalaaq:2-3). (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3).

Tawakal adalah berserah diri dan menyandarkan hati hanya kepada Allah ’Azza wa Jalla. Golongan ini yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Allah SWT saja yang dapat memberi mencegah dan memberikan  memberikan keburukan dan manfaat. Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga banyak menjelaskan hal ini dalam hadist-hadistnya. Salah satunya diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut.

Dari ‘Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dan Al Hakim. Imam Tirmidzi berkata : hasan shahih)

Dalam hadist di atas terlihat bahwa sikap tawakal yang benar harus disertai dengan mengambil sebab yang diisyaratkan. Namun mengambil suatu sebab bukan berarti menafikan (meniadakan) tawakal. Pada saat Rasulullah memasuki Kota Mekah pada saat peristiwa Fathul Mekah, Nabi terakhir ini etap menggunakan pelindung kepala (ini menunjukkan beliau mengambil sebab untuk melindungi diri beliau). Beliau juga telah memberi petunjuk untuk menggabungkan antara mengambil sebab dan bersandar kepada Allah melalui sabda beliau :

“Semangatlah kalian terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi kalian dan mohonlah pertolongan kepada Allah “ (H.R Muslim 2664).

Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba yang bertawakal kepada Allah, selalu bekerja keras dan mendapatkan rezeki berkah dari berbagai arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Minggu, 07 Februari 2016

Lima Tindakan Penyebab Doa Anda Ditolak Allah


Berdoa merupakan salah satu upaya yang dilakukan Umat Islam ketika berharap sesuatu dari Allah SWT. Aktivitas spiritual yang satu ini memang ampuh memberikan harapan ketika manusia berusaha mendapatkan apa yang diinginkan.

Namun, manusia hanya mampu berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya tetap Allah SWT yang menentukan. Ada kalanya doa yang dimunajatkan begitu cepat dikabulkan, namun ada pula yang menunggu lama bahkan doa tersebut tidak kunjung terwujud.

Ternyata, urusan doa tidak sebatas meminta, memanjatkan dengan khusuk dan kemudian berusaha. Namun ada tindakan kita yang menghalangi Allah mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Berikut ini sepuluh tindakan yang buat doa anda  ditolak Allah.

1. Melalaikan Hak-Hak Allah SWT
Sejatinya Allah SWT akan mengabulkan doa hamba-hambaNya. Namun datangnya adalah pada saat yang tepat. Namun lain halnya jika doa ditolak, itu artinya apa yang kita munajatkan tidak akan pernah terwujud.

Tindakan pertama yang dapat membuat doa ditolak Allah adalah melalaikan hal-hak dari sang Pencipta tersebut. Meski mengaku tiada Tuhan selain Allah, namun mereka tidak melaksanakan apa yang menjadi hak Allah. Padahal, kewajiban kita yang menjadi hak Allah adalah menyembah-Nya. Namun mengaku Islam, manusia tetap saja menyekutukan Allah dengan mempercayai hal-hal lain selain Allah. Jelas ini tidak saja menjadi sebab tertolaknya sebuah doa, lebih dari itu ia termasuk perbuatan syirik.

“Janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Saya pernah membonceng Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam di atas himar, beliau berkata kepada saya, “Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hambaNya dan apa hak hamba atas Allah?” Saya berkata, “Allah dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hambaNya ialah agar mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun. Dan hak hamba atas Allah ialah tidak diadzab selama dia tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.”
   
2.  Sesuatu yang Haram
Pada era kini perkara halal dan haram mungkin tidak lagi menjadi hal yang vital. Segala cara dilakukan untuk memperbanyak pundi-pundi harta untuk menyenangkan dunia.  Mungkin saja, dengan hal haram yang dilakukan seseorang akan mendapatkan keberlimpahan harga.

Namun Allah SWT tidak akan mengabulkan doa hamba yang masih terjamah oleh hal-hal haram tersebut. Pasalnya Allah hanya menerima hal-hal baik, karena sejatinya Allah adalah maha baik.

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari sumber yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah mungkin akan dikabulkan doa orang seperti itu?.” (HR. Muslim).

3. Tidak Fokus dan Mudah Melupakan Doanya
Hal ketiga yang dapat membuat Allah menolak doa hamba-Nya adalah karena manusia tidak fokus, tergesa-gesa kemudian melupakan doa tersebut. Ketika menginginkan sesuatu hendaknya kita bersungguh-sungguh memunajatkannya. Allah SWT tentu akan bermurah hati memberi apa yang memang benar-benar kita inginkan.

Layaknya orangtua, mereka akan mengabulkan permintaan yang diinginkan anak jika mereka bersungguh-sungguh. Namun jika hanya sekedar permintaan seperti angin lalu saja, maka orang tua pun akan mudah mengabaikannya. Terlebih jika sambil menggerutu jika permintaan tersebut tidak kunjung dikabulkan.

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Do’a) salah seorang diantara kalian pasti akan dikabulkan selagi ia tidak terburu-buru, dengan mengatakan; ‘Aku telah berdoa, namun tidak kunjung dikabulkan.” (HR.Muttafaq ‘alaih).

 4. Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Tindakan keempat yang membuat Allah menolak doa adalah meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Islam menempatkan manusia itu tidak saja dalam dimensi individu, akan tetapi juga dalam dimensi sosial sebagai anggota masyarakat. Manusia wajib menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari kejahatan. Jika justru menjadi pendukung kejahatan, niscaya Allah akan benar-benar hampir mengirimkan siksaan dan menolak doa-doanya.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, benar-benar kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah benar-benar hampir mengirimkan siksaan dari-Nya, lalu kalian berdoa dan tidak akan dikabulkan.” [HR at-Turmudziy: 2169 dan Ahmad: V/ 388, 391]

5. Melampaui Batas ketika Berdoa
Tindakan kelima yang dapat membuat doa tertolak adalah kesalahan dalam berdoa. Manusia sering melampaui batas ketika menginginkan sesuatu, sehingga mereka berdoa dengan cara-cara yang salah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raaf: 55).

Kesalahan yang sering kita temui adalah manusia yang mengkhususkan suatu tempat sebagai lokasi yang dianggapnya mustajab untuk berdoa. Misalnya berdoa di pohon, goa, tepi laut dan sebagainya yang justru mengarah pada syirik. Mungkin apa yang kita inginkan bisa saja diterima dengan cara-cara ini. Namun ini tentu tidak berlangsung lama, mengingat dunia hanya persinggahan sementara, setelahnya ada azab pedih menanti dan tidak bisa terelakkan.