Sabtu, 20 Februari 2016

Tiga Sikap Mukmin Saat Hadapi Persoalan Hidup

Permasalahan hidup sering kali menjadi alasan seseorang untuk berputus asa. Bahkan banyak di antara mereka yang menganggap bahwa masalah adalah bencana. Tidak jarang hal ini menyebabkan manusia jauh dari Allah SWT.

Upaya penyelesaian masalah terkadang justru menjerumuskan manusia dalam kesengsaraan hidup. Beberapa diantaranya menempuh jalan pintas dan tidak diridhai Allah SWT. Misalnya dengan bunuh diri, atau mencelakai dan menyusahkan orang lain.

Islam selalu memperingatkan penganutnya agar bersabar dalam menghadapi persoalan hidup. Agama yang di bawa Rasulullah SAW ini mengajarkan umatnya agar terhindar dari kebimbangan, kebingungan dan kegelisahan. Lantas apa sikap yang seharusnya dimiliki mukmin ketika hadapi perosalan hidup? Berikut informasi selengkapnya.

1. Menyadari Bahwa Setiap Jiwa Ada Rizkinya
Sikap pertama yang harus dimiliki oleh kaum muslim ketika melihat persoalan hidup adalah menyadari bahwa setiap jiwa itu ada rizkinya. Mungkin kita sudah banyak mendengar apabila pada zaman jahiliyah dahulu banyak orangtua yang membunuh anaknya karena merasa tidak mampu memberikan nafkah kepada mereka.

Hal yang sama juga kerap terjadi pada zaman sekarang. Padahal Islam telah melarang perbuatan keji yang demikian. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud menemui Rasulullah, lalu bertanya. “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar? Beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu.”

“Kemudian apa lagi?” “Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu”. “Lalu apa lagi?” “Engkau berzina dengan istri tetanggamu” (HR. Bukhari Muslim).

Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.” (QS: al-An’am [6]: 151).

Dalam ayat yang lain Allah juga tegaskan;

”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS: al-Israa’ [17]: 31).

Ayat di atas menujukkan bahwa Allah SWT sangat menyayangi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu Allah melarang umat manusia untuk membunuh anak-anak mereka.

Jadi intinya sebagai kaum muslim kita tidak boleh takut miskin, sesulit apapun beban ekonomi yang sedang dihadapi. Seharusnya kita mampu menyikapinya dengan tepat sehingga dapat meningkatkan iman dan takwa kita sebagai kaum muslim. Selain itu, kita juga harus selalu bersabar dan ikhtiar di jalan Allah SWT.

2. Mampu Memaknai Rizki
Selain memiliki sikap untuk menyadari bahwa setiap jiwa ada rezekinya, sebagai kaum muslim kita juga harus mempu memaknai rezeki itu sendiri. Jangan hanya beranggapan bahwa rezeki itu sebatas harta benda saja seperti pandnagan orang-orang kafir.

Akan tetapi, sadarilah bahwa rezeki itu mencakup semua hal yang ada di dalam kehidupan manusia. Dapat berupa waktu, kesehatan, kesempatan, kecerdasan, istri, anak, orang tua, tetangga, teman, lingkungan, hujan, tanaman, hewan peliharaan dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan manusia bahwasanya nikmat (rezeki) yang telah Allah limpahkan ini sungguh tidak akan pernah bisa dihitung. Sebab, Allah telah menyediakan untuk umat manusia apa saja yang manusia perlukan pada segala situasi dan kondisi.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS: Ibrahim [14]: 34).

Allah memang memberikan rizki kepada semua makhluk-Nya, tetapi tidak semua mendapatkan rizki yang mulia dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia” (QS. 22 : 50).

Terhadap ayat tersebut, Ibn Katsir mengutip pernyataan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. “Apabila engkau mendengar firman Allah Ta’ala (wa rizqun karim) ‘Dan rizki yang mulia,’ maka rizki yang mulia itu adalah surga.

Berdasarkan firman di atas, maka sebaik-baiknya rezeki adalah surga. Oleh karena itu, meskipun sedang menghadapi persolan hidup, kita tetap harus mengutamakan dua perkara penting yakni iman dan amal sholeh. Kedua hal inilah yang dapat mengantarkan setiap jiwa mendapatkan rezeki yang mulia.

3. Tawakkal
Hal terakhir yang harus dilakukan muslim dalam menyikapi persolan hidup adalah dengan tawakal kepada Allah. Kita semestinya menerima segala ketetapan Allah dengan lappang dada. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki” (QS. An-Nahl [16]: 71).

Terkait hal ini Imam Ghazali dalam kitab terakhirnya ‘Minhajul Abidin’ menegaskan bahwa setiap Muslim hendaknya memahami dengan baik bahwa rizki manusia itu telah dibagikan oleh Allah sebelum kita dilahirkan.

Apa yang dibagikan-Nya itu tidak dapat diganti dan tidak pula berubah. Apabila seorang Muslim menolak pembagian tersebut dan berharap agar diubah, maka berarti ia telah mendekati kekufuran.

Lebih lanjut, Imam Ghazali mengatakan, “Sesungguhnya apa yang ditakdirkan sebagai makanan yang engkau kunyah, maka tidak akan dikunyah oleh orang lain. Maka, makanlah bagian rizkimu itu dengan mulia, jangan engkau memakannya dengan hina”.

Karena Allah telah menetapkan rezeki kepada setiap makhluk-Nya. Maka tugas kita selanjutnya sebagai hamba adalah terus berikhtiar untuk menjemput rezeki tersebut. Terkait dengan sedikit atau banyaknya yang diperoleh maka berlapang dada dan bersyukurlah.

Sudah seharusnya kita menyerahkan semua kepada Allah dengan bertawakal setelah melakukan ikhtiar. Sebab tawakkal itu adalah indikasi keimanan paling nyata. “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. 5 : 23).

Demikianlah sikap yang harus dimiiki umat muslim ketika menghadapi persoalan hidup. Jangan jadikan masalah hidup sebagai penghambat kita untuk bertakwa kepada Allah. Sebab pada dasarnya di setiap masalah itu, Allah senantiasa memberikan jalan keluar kepada hamba-Nya yang mau berusaha.

Kalimat Terlarang Diucapan Ketika Berdoa

Berdoa merupakan aktivitas spiritual seorang hamba untuk meminta sesuatu kepada yang pencipta. Bagi umat Islam, berdoa biasa dilaksanakan usai pelaksanaan salat baik wajib maupun sunnah.

Sebelum berdoa, umat Islam terbiasa melantunkan pujia-pujian terhadap Allah melalui kalimat dzikir. Setelah itu, barulah memanjatkan apa yang menjadi keinginannya agar dikabulkan Allah. Ternyata berdoa tidak sebatas berdzikir lalu meminta.

Lebih dari  itu, ada adab yang mengaturnya. Ternyata ada kalimat terlarang yang tidak boleh diucapkan ketika sedang memohon kepada Allah ini. Rasulullah menjelaskan kalimat ini sering diucapkan namun sebenarnya tidak diperbolehkan. Apa kalimat terlarang tersebut? 

Ternyata kalimat ini sering diucapkan oleh sebagian umat Islam saat berdoa. Bahkan beberapa diantaranya menganggap baik menggunakan kalimat ini. Karena memang, sepintas seperti tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut.

Namun ternyata, Rasulullah SAW lebih mengetahui kehendak Allah dibanding kita. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menyampaikan bahwa kalimat ini tidak disukai-Nya dan umat dilarang mengucapkan ketika berdoa.

Adalah kalimat “Ya Allah jika Engkau berkenan maka berilah aku (isi permohonan)”, “Ya Allah (isi permohonan) jika Engkau berkenan”  yang menjadi kalimat terlarang ketika berdoa. Sepintas tidak ada yang salah bukan?

Bahkan beberapa diantara kita mungkin sering mengucapkannya usai salat. Kalimat ini terkesan lembut dan tidak memaksa Allah dalam berdoa ketika meminta. Namun ternyata tidak diperbolehkan diucapkan ketika berdoa. Hadist tentang penjelasan ini diriwayatkan   Bukhari yang artinya:

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia sungguh-sungguh dalam memohon dan janganlah ia mengucapkan, ‘Ya Allah jika Engkau berkenan maka berilah aku.’ Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya” (HR. Bukhari)

“Janganlah kalian mengucapkan ‘Ya Allah ampunilan aku jika Engkau berkenan. Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkenan’. Tapi hendaknya ia sungguh-sungguh dalam memohon karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya” (HR. Bukhari)

Seorang ahli tafsir, Ibnu Abdil Barr menjelaskan tentang hadist tersebut. Menurutnya tidak ada yang dapat memaksa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah hanya melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Allah hanya mengabulkan apa yang dikehendaki-Nya.

Kalimat  ini dianggap tidak berdasar sebab Allah hanya melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ibnu Abdil Barr bahkan mengatakan bahwa ucapan ini hukumnya haram ketika berdoa. Sedangkan Imam Nawawi berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Allah SWT maha mengetahui Ilmu pengetahun.

Jumat, 19 Februari 2016

Ternyata, Inilah Lima Hal yang Pasti Ditanyakan Saat di Akhirat


Kehidupan di dunia merupakan hal sementara, sedangkan kehidupan kekal akan di jalani saat di akhirat kelak. Kiamat menjadi suatu peristiwa yang pasti terjadi dan tidak bisa dielakkan oleh siapapun. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat tersebut kecuali Allah SWT.

Di akhirat kelak, umat manusia akan di timbang amalan kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan di dunia. Barang siapa yang berat timbangannya akan menjadi penghuni surga dan mereka yang menghabiskan kehidupannya dengan maksiat maka bersiaplah menahan panasnya api neraka.

Di hari kiamat kelak, dua kaki manusia tidak akan beranjak sedikit pun sebelum mendapatkan pertanyaan dan menyampaikan jawabannya. Lalu apa sajakah hal-hal yang akan ditanyakan saat di akhirat kelak? Berikut informasi selengkapnya.

1. Umur
Umur menjadi hal yang sudah pasti akan ditanyakan saat di akhirat nanti. Tentu saja pertanyaan tersebut berkaitan dnegan untuk apa saja umur tersebut kita pergunakan? Apakah untuk melakukan kesibukan duniawi saja atau mengimbanginya dengan kesibukan akhirat?

Banyak di antara kita yang lalai dengan perkara umur ini. Bahkan tidak jarang kita jumpai orang-orang yang bukan melaksanakan perintah Allah, namun justru menghabiskan separuh kehidupannya untuk berbuat maksiat dan dosa. Orang-orang yang demikian inilah yang kelak akan terjerumus ke dalam pedihnya siksa neraka karena menjadi dunia sebagai orientasi hidupnya.

Sebaliknya, mereka yang mempergunakan umurnya untuk menyibukkan diri dengan dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an, membayar zakat, membantu sesama dan amalan kebaikan lainnya akan diberi keindahan surga. Oleh karenanya, janganlah menghabiskan waktu untuk berfoya-foya dan terlena dengan kenikmatan duniawi yang hanya sementara.

2. Ilmu
Perkara selanjutnya yang juga akan ditanyakan saat kiamat nanti adalah mengenai ilmu. Bagaimanakah cara kita memperoleh dan mempergunakan ilmu menjadi suatu hal yang sangat penting. Apakah kita menggunakan setiap lembar ilmu yang diperoleh untuk kebaikan atau justru menggunakannya untuk berbuat maksiat.

3. Masa Muda
Masa muda menjadi waktu yang sebenarnya harus dipergunakan untuk mendulang pahala yang sebanyak-banyaknya dari Allah SWT. Namun, pada kenyataannya saat ini banyak orang yang menghabiskan masa mudanya dengan sibuk belanja, mengikuti mode, bercampur baur dengan lawan jenis yang bukan muhrim.

Semua kegiatan tersebut ternyata menjadi ladang untuk mengumpulkan dosa. Maka beruntunglah bagi mereka yang menggunakan masa mudanya untuk menuntut ilmu akhirat dengan tidak melupakan ilmu dunia. Rajin mendatangi majelis taklim dan bertemu dengan orang-orang shaleh, menjaga diri dari perbuatan zina serta tidak suka melakukan perbuatan sia-sia lainnya.

4. Harta (Cara Mendapatkannya)
Pertanyaan yang tidak kalah penting akan ditanyakan saat kiamat kelak adalah perkara harta. Ada dua pertanyaan terkait harta ini, yang pertama mengenai bagaimana cara kita memperolehnya. Apakah kita mendapatkan harta dengan cara menipu, mencuri, melakukan korupsi atau perbuatan dosa lainnya. Ataukah kita mendapatkan harta tersebut dengan cara yang baik, berkah dan halal. Tentu saja cara kedua inilah yang mampu bermanfaat di dunia dan akhirat.

5. Harta (Cara Memanfaatkannya)
Pertanyaan selanjutnya mengenai perkara harta adalah cara memanfaatkannya. Apabila kita mendapatkan harta dengan cara yang buruk, maka kemungkinan besar harta itu juga akan digunakan untuk keburukan. Misalnya mendapatkan harta dari hasil korupsi, bisa jadi digunakan untuk zina, hura-hura dan sejenisnya.

Namun tidak semua orang yang mendapatkan harta dengan cara buruk mempergunakanya untuk keburukan juga. Harta tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, seperti bersedekah dengan hasil uang curian. Namun perlu diketahui bahwa Allah tidak akan menerima kebaikan kecuali dengan cara dan sumber yang baik pula.

Ada pula orang yang mendapatkan harta dengan cara yang baik namun menggunakannya untuk keburukan. Misalnya ia mencari harta dengan menjadi seorang kuli bangunan, akan tetapi mempergunakan harta tersebut untuk berjudi, ikut pesta minuman keras dan maksiat lainnya.

Cara memanfaatkan harta yang terakhir adalah mendapatkan dengan baik dan mempergunakannya di jalan kebaikan. Orang yang demikian ini adalah orang yang beruntung sebab mereka menjemput rezeki dengan cara yang baik dan memanfaatkanya di jalan Allah.

Demikianlah informasi mengenai lima hal yang sudah pasti ditanyakan saat hari kiamat kelak. Sebagai kaum muslim kita harus mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan melaksanakan dengan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar mendapatkan indahnya surga seperti yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman.

Inilah Amalan yang Membuat Pelakunya Datang Bagai Bulan Purnama Saat Kiamat

Ada banyak sekali amalan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dikerjakan kaum muslim saat hidup di dunia, di antaranya ada amalan wajib dan juga amalan sunnah. Bagi mereka yang mengerjakan amal kebaikan maka orang tersebut akan di balas dengan pahala dari Allah SWT.

Tidak hanya itu, di akhirat kelak saat hari penimbangan amal maka orang yang berat timbangan kebaikannya akan menjadi penghuni surga. Sebaliknya, mereka yang selama hidupnya melakukan maksiat dan berbuat dosa akan terjerumus ke dalam neraka.

Ternyata, pada hari kiamat kelak akan datang manusia bagaikan bulan purnama karena suatu amalan. Lalu amalan apakah yang membuat pelakunya datang bagai bulan purnama saat hari kiamat kelak? Berikut informasi selengkapnya.

Amalan yang membuat pelakunya datang bagai bulan purnama saat kiamat kelak adalah mereka yang senantiasa mengerjakan amalan kebaikan. Orang yang rajin shalat akan memiliki pancaran cahaya yang menjadi penerang bagi fisik, pikiran dan jiwa pelakunya.

“Jika seorang hamba memelihara shalatnya,” dengan, “menegakkan wudhunya, rukuknya, sujudnya, serta bacaannya,” terang Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani, “Maka shalat akan berkata padanya, ‘Allah memeliharamu seperti engkau memeliharaku.'”

Kemudian, lanjut Nabi dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit ini, “Lalu diangkat ke langit dan baginya cahaya sampai tiba di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla sehingga (shalat itu) memberi syafaat bagi orangnya.”

Tidak ada satupun kerugian yang akan diperoleh orang yang khusyuk dalam shalatnya. Bahkan mereka akan mendapatkan pahala yang agung dan kemuliaan di akhirat yang abadi. Kaum muslimin yang benar imannya, kemudian mendirikan shalat dengan berjamaah karena Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah, kelak mereka akan diberikan karunia melewati shirath seperti kilat yang menyambar dan dimasukkan ke dalam golongan Sabiqin (orang yang terdahulu dalam iman).

Selain itu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Thabrani, “Pada Hari Kiamat dia datang bagai bulan purnama.”

Ditambahkan dalam riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, “Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya sempurna pada Hari Kiamat.”

Tidak hanya itu, wajah orang yang melakukan shalat juga akan senantiasa memancarkan cahaya kesejukan, enak dipandang, nyaman dibersamai dan tidak bosan saat menatapnya. Tidak hanya itu, kaum muslimin yang beriman dan khusyuk dalam shalatnya, pikirannya adalah pelita bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Itulah sebabnya, produk pikiran berupa tulisan maupun lisan akan senantiasa mencerahkan dan memiliki daya ubah bagi orang lain yang menjumpainya.

Sedangkan pancaran cahaya nuraninya akan menembus melewatu batas-batas indrawi dalam kecintaannya kepada Allah Ta’ala. Karenanya akan membuat semesta alam bertasbih seraya mendoakan keberkahan untuknya.

Demikianlah informasi mengenai amalan yang membuat pelakunya datang bagai bulan purnama saat hari kiamat kelak. Pribadi-pribadi seperti inilah yang akan dinantikan kehadirannya di surga kelak. Pada hari kiama kelak, shalat akan bersaksi untuknya dengan kesaksian yang tiada dusta di dalamnya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang demikian mulia ini.

Batas Suami Tak Beri ‘Jatah’ Biologis Pada Istri

Urusan biologis dalam berumah tangga menjadi salah satu aspek penunjang kebahagiaan. Tidak hanya istri yang harus melayani suami secara lahir batin, tapi sang pemimpin rumah tangga ini juga memiliki kewajiban serupa.

Namun dalam satu kondisi, suami dan istri bisa saja terpisah jauh dalam jangka waktu yang lama. Sehingga dalam rentang waktu tersebut kebutuhan biologis istri tidak terpenuhi.

Tidak hanya jarak, terkadang ada hal-hal lain yang menyebabkan suami tidak memberi nafkah ini kepada istrinya. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap hal ini? Kapan batas minimal suami tidak memberikan nafkah biologis kepada istrinya?

Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal berumah tangga.  Hal ini mungkin terdengar klasik, namun agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW  ini juga sudah mengaturnya untuk menjaga keutuhan rumah tangga umatnya. Menurut Ibnu Hazm berkata, suami wajib menjimak istrinya sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan jika ia mampu.

Untuk urusan ini, Allah SWT memang sudah memerintahkan hamba-hamba-Nya yakni pria yang sudah menikah untuk memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Hal ini dijelaskan dalam banyak ayat, dua ayat berikut menjelaskan hal tersebut.

“..apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu…” (QS. Al Baqarah: 222).

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya” (QS. Al Baqarah: 223).

Namun fakta dalam kehidupannya tidak selamanya urusan nafkah biologis ini berjalan lancar. Pasalnya ada hal-hal yang membuat pasangan suami menahan hasrat biologisnya.

Berbeda dengan Ibnu Hazm, Imam Ahmad mengatakan bahwa batas minimal suami tidak memberikan hak biologis istrinya dalah empat bulan. Pendapat ini berpijak pada ketetapan yang dibuat oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.

Kala itu, Islam tengah dalam masa jaya karena berhasil menang dalam setiap peperangan. Para bala tentara dengan gagah berani menerjang lawan membawa bendera Islam untuk melawan musuh. Namun dibalik kemenangan yang diterima, ada hati istri yang sedih karena ditinggal suaminya bertugas untuk berperang.

Hal ini yang diketahui oleh Umar bin Khattab saat melakukan blusukan ke kampung-kampung. Saat menjumpai sebuah rumah, khalifah kedua ini mendengaran syair seorang wanita yang begitu sedih. Ia begitu merindukan suaminya yang sudah bertugas selama berbulan-bulan.

“Alangkah ringannya  bagi  umar bin Khattab dan bagaimana gelisahnya seorang istri yang telah lama ditinggalkan oleh  suaminya”

Begitulah potongan syair yang diucapkan wanita tersebut. Hal ini tentu saja membuat Umar bin Khattab gundah. Ia lantas bergegas menemui putrinya Hafsoh untuk meminta pertimbangan tentang berapa bulan seorang wanita mampu bertahan tanpa suaminya, apa kata Hafsoh :”sekuat-kuat wanita dia hanya bisa bertahan selama empat bulan"

Sejak itu Umar menyuruh pasukan yang sudah dimedan perang selama empat bulan untuk pulang dan digantikan dengan pasukan yang lain.

Sementara itu, menurut Imam Al Ghazali, suami seharusnya menjimak istri setiap empat malam satu kali. Hal ini berdasarkan batas poligami dalam Islam yang berjumlah empat orang. Namun boleh diundurkan dari waktu tersebut bahkan sangat bijaksana kalau lebih dari sekali dalam empat malam atau kurang dari itu, sesuai kebutuhan istri dalam memenuhi kebutuhan seksualnya.  Meski terdapat perbedaan di kalangan ulama, namun setiap perbedaan itu ada faedah bagi umat.  

Kamis, 18 Februari 2016

Di Akhirat, Golongan Ini Digiring ke Surga dengan Rantai

Perjalanan menuju surga bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada banyak sekali fase yang harus dilewati manusia untuk meraih kenikmatan yang satu ini. Di akhirat kelak manusia akan melewati masa hisab, lalu setelah itu amal perbuatan yang dilakukan selama di dunia akan ditimbang atau disebut dengan Yaumul Mizan.

Selain itu, di akhirat kelak fase selanjutnya yang harus dilalui yaitu perjalanan manusia untuk melewati jembatan shirat yang di ujungnya terdapat surga bagi kaum beriman. Sedangkan di bawahnya terdapat neraka yang menjadi tempat penyiksaan bagi pelaku maksiat di dunia.

Ternyata tidak semua orang dapat masuk surga dengan cara yang mudah. Bahkan Rasulullah SAW pernah menyebutkan dalam sabdanya bahwa ada kaum yang digiring ke surga dengan rantai. Apakah maksud dari hadist tersebut? Berikut informasi selengkapnya.

Hadist ini diri Bukhari, dimana Rasulullah  SAW besabda yang artinya:
“Allah heran dengan orang-orang yang masuk surga dengan dibelenggu rantai.” (HR Bukhari)

Dan pada riwayat lain,
“Sungguh Allah heran dengan orang-orang yang ditarik untuk masuk ke surga dengan menggunakan rantai.” (HR. Ahmad, dan Abu Dawud)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
“Makna hadist ini yaitu ketika orang kafir tertawan, kemudian mereka masuk Islam di sebabkan mereka mengetahui kebenarannya, dan mereka masuk Islam dengan sukarela maka mereka masuk surga. Kondisi terpaksa pada tawanan merupakan sebab awalnya, maka dimutlakkan dengan pemaksaan dengan belenggu rantai karena ialah sebab masuknya mereka dalam surga.

Tafsir lain dari Al-Thibi rahimahullahu mengatakan, makna dirantai ini adalah melepaskan diri dari kesesatan dan menuju kepada hidayah Allah. Namun hadist dalam tafsir surat Ali Imran menunjukan bahwa maknanya adalah hakikat (tekstual, benar-benar ada yang masuk surga dibelenggu, pent). Sebagaimana dari riwayat dari Abu Tufail, ia memarfu’kannya (sampai sanadnya kepada Nabi)

Sementara itu, Ibrahim Al-Harbi mengatakan bahwa tidak boleh memahami hadist ini secara hakikat atau tekstual. Menurutnya mereka digiring masuk Islam dalam keadaan terpaksa dan ini menjadi sebab mereka masuk ke dalam surga, bukanlah maksudnya di surga sana ada belenggu.

Islam merupakan agama yang tidak pernah memaksa manusia untuk memeluknya. Ibnu Katsir menuturkan, “Allah Ta’ala pun menurunkan ayat, ‘Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.'” (Qs. al-Baqarah [2]: 256)

Ibrahim Al-Harbi berpendapat bahwa tidak boleh memahaminya dengan makna hakikat (tekstual) dan ia berkata bahwa maknanya adalah mereka digiring masuk Islam dalam keadaan terpaksa dan ini menjadi sebab mereka masuk ke dalam surga, bukanlah maksudnya di surga sana ada belenggu.

“Saya Melihat Manusia dari umatku digiring ke surga dalam dibelenggu rantai dengan terpaksa”

Kemudian aku berkata,
“wahai Rasulullah siapakah mereka?”

Beliau bersabda,
“sekelompok orang dari Ajam (non-Arab) yang ditawan oleh orang Muhajirin kemudian mereka masuk Islam dalam keadaan terpaksa”.

Bahkan di dalam Islam, jika ada seseorang yang menjadi mualaf karena terpaksa seperti menjadi tawanan mereka, maka sudah terjamin surga baginya.

“Rabbmu merasa kagum,” sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam riwayat Shahih, “kepada kaum yang digiring ke dalam surga dengan rantai.”

Maknanya, tutur Ibnu Katsir, “Mereka adalah tawanan yang dibawa ke negeri Islam dalam keadaan diikat dan dibelenggu.” Setelah itu, lanjut ulama’ masyhur ini, “Mereka pun masuk Islam.”

Demikianlah penjelasan terkait maksud hadist yang menyatakan bahwa akan ada orang yang masuk surga dengan digiring rantai. Ternyata kaum kafir yang terpaksa memeluk Islam karena menjadi tawanan perang atau sejenisnya juga akan menjadi penghuni surga sebab di dalam hati mereka telah bersemayam keimanan kepada Allah SWT.

Tujuh Cara Tingkatkan Kekuatan Iman


Keimanan seseorang bagaikan siklus yang bisa naik dan turun seiring waktu. Dalam satu kondisi, bisa saja keimanannya begitu tinggi, namun seketika bergoyah ketika ditimpa ujian dari Allah. Tidak hanya kesedihan, kebahagiaan pun menjadi ujian yang menggoyahkan iman.

Terlebih bagi manusia yang imannya masih lemah, maka dengan cepat berubah layaknya membalikkan telapak tangan. Imbasnya mereka jauh dari ajaran Islam bahkan rela berpaling dari Allah SWT. 

Sebagai kaum muslim, sudah seharusnya kita mencari tahu cara tepat untuk meningkatan kekuatan iman. Selain memperteguh diri sendiri, cara ini juga juga bisa mempengaruhi orang sekitar untuk melakukan hal serupa. Berikut ini adalah informasi terkait tujuh cara untuk meningkatkan kekuatan iman.

1. Memperbanyak Baca Al-Qur’an dan Merenungi Maknanya

Hal pertama yang harus dilakukan oleh kaum muslim untuk meningkatkan kekuatan imannya adalah dnegan memperbanyak membaca Al-Qur’an serta merenungi maknanya. Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an memiliki targer yang luas dan spesifik sesuau dengan kebutuhan masing-masing orang yang sedang mencari atau memuliakan Rabbnya.

Bahkan jika didalami, ayat Al-Qur’an tersebut dapat menggetarkan hati seseorang yang tengah mencari kemuliaan Allah SWT. Selain itu, Al-Qur’an juga bisa membuat menangis orang yang berdosa dan memberikan ketenangan hati kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS, Shaad 38:29)

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)

2. Mempelajari Asma’ul Husna
Selain membaca dan memaknai Al-Qur’an, ternyata mempelajari Asmaul Husna (Nama-Nama Allah Yang Indah) juga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kekuatan iman. Apabila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah.

Tidak hanya itu, bila orang tersebut memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).

Sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar. Dengan memahami Asmaul Husna tersebut maka akan berdampak baik pada peningkatan keimanan yang kita miliki.

3. Mempelajari Sirah Nabawiyah
Rasulullah SAW merupakan teladan kebaikan bagi seluruh manusia. Oleh karena itu, dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah SAW akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadap beliau. Dengan demikian akan berkembanglah keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau serta mematuhi pesan-pesannya selaku utusan Allah SWT.

Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya: “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah saw menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim)

Hadist di atas sangat disukai oleh para sahabat Rasulullah SAW. Dari hadist tersebut sangat jelaslah bahwa dengan mencintai Rasulullah akan menjadi salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidup (sirah) menjadi bagian terpenting untuk lebih memudahkan dalam memahami dan mencintai beliau.

4. Mempelajari Nilai-Nilai Agama Islam
Meskipun kita terlahir sebagai kaum muslim, namun hal tersebut semestinya tidak menghentikan kita untuk terus belajar. Agar keimanan dalam hati terus meningkat maka giatlah dalam mempelajarri nilai-nilai agama Islam. Dengan merenungkan syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkan, perintah serta larangannya, akan menimbulkan rasa kagum terhadap kesempurnaan ajaran agama Islam tersebut.

5. Mempelajari Kehidupan para Sahabat Rasulullah SAW, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
Selain mempelajari dan meneladani kehidupan Rasulullah, kita juga harus mempelajari kehidupan dari sahabat beliau. Mereka merupakan generasi terbaik dari Islam yang memiliki kadar keimanan diibaratkan sebesar gunung Uhud. Sedangkan manusia pada zaman sekarang ini diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu dari gunung Uhud tersebut.

Dikisahkan Umar r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika ia mengetahui bahwa makanan yang diberikan padanya kurang halal sumbernya. Sejarah lain menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi’in meng-khatamkan Qur’an dalam satu kali sholatnya.

Ada pula cerita tentang seorang sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya berturut-turut tidak pernah sholat wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid. Atau seorang sholeh yang menangis karena lupa mengucap doa ketika masuk masjid.

Lewat cerita-cerita teladan dari sahabat Rasulullah inilah yang bisa menggetarkan hati kaum muslimin yang sedang berusaha meningkatkan kadar keimanan dalam hatinya.

6. Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran Allah yang Ada Di Alam (Ma’rifatullah)
Merenungi tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ada di alam (ma’rifatullah) menjadi suatu hal yang sangat penting untuk meningkatkan keimanan seseorang selanjutnya. Dengan merenungi tanda kebesaran Allah tersebut maka akan menghindarkan diri untuk memiliki sikap sombong.

Sebab ia tentu akan menyadari bahwa hanya Allah lah yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menciptakan alam yang sempurna ini. Selain renungan tentang penciptaan alam, renungkan jugalah rahasia dan mukjizat dari Al-Qur’an. meskipun diturunkan secara bertahap, akan tetapi Al-Qur’an memiliki mukjizat yang sangat luar biasa.

Kata tunggal yaum disebut sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah (masehi). Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut sebanyak 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa’ah (jam) disebutkan sebanyak 24 kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan semua kata-kata itu tersebar di 114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu kata yang tersusun indah.

Dengan menyakini segala kebesaran Allah tersebut maka akan membuat diri kita merasa kecil di hadapan-Nya. Selain itu, juga akan menambah kekaguman dan cinta serta keimanan kita terhadap pencipta alam semesta ini.

7. Berusaha Keras Melakukan Amal Perbuatan yang Baik Secara Ikhlas
Cara terakhir untuk meningkatkan keimanan adalah dengan berusaha keras dalam melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas. Amalan kebaikan tersebut dapat dimulai dari hati, kemudian diungkapkan dengan lidah dan dipraktekkan lewat anggota tubuh.

Perbanyaklah melakukan amalan hati dan selalu jaga kesucian hati yang kita miliki, sebab di sinilah bermuara sikap dan sifat baik serta buruk seseorang. Amalan lisan juga tidak kalah pentingnya, perbanyaklah dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Imbangi juga dengan melaksanakan amalan anggota tubuh yakni dengan perbanyak sedekah, dan shalat berjamaah di masjid.

Demikianlah informasi terkait tujuh cara tingkatkan kekuatan iman. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim kita harus senantiasa bertanya kepada diri sendiri mengenai tingkat keimanan yang dimiliki. Apabila sudah merasa mulai berkurang, maka bersegeralah untuk memohon ampun kepada Allah dan lakukan ketujuh cara di atas. Agar Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.